Minggu, 08 Januari 2012

Anak dalam dua Bahasa

Tumbuhkan Anak dalam Dua Bahasa
Bikin Anak Kreatif atau Lahirkan Malapetaka?
Bukan hanya di Bali, konsep "bilingual baby" -- menumbuhkan bayi dalam dua bahasa -- kini sedang jadi trend di AS. Tengoklah ke toko-toko buku, perpustakaan, atau pergi on-line barang sejenak. Banyak betul produk, mulai dari buku sampai video yang menawarkan program ini di AS.
SEBAGIAN bahan tersebut merupakan sumber referensi bagi orangtua, sebagian lagi berupa program singkat-praktis yang dapat dicerna anak. Katakanlah video berdurasi 50 menit yang dirancang untuk memperkenalkan bahasa Portugis untuk anak. Film singkat ini dikemas menarik, mulai dari pemilihan objek, warna, tema, hingga musiknya, sehingga perhatian anak tercuri penuh. Sita, seorang anak berumur 1 tahun, sama sekali tak berkedip memandang anjing yang berguling di atas rumput. Agaknya, ia pun tertarik pada bunyi atau bahasa baru yang didengarnya, yang menyebut "anjing itu sedang bermain" dalam bahasa Portugis.
Sekalipun sedang jadi trend, konsep ini memunculkan banyak konsekuensi kontroversial. Dukungan pada konsep ini lahir dari hasil riset yang menunjukkan bayi bilingual umumnya lebih kreatif, kemampuan intelektualnya lebih tinggi, pun dalam problem pemecahan masalah kapasitas mereka konon lebih baik. Di lain pihak, ada yang menyanggah, menganggap konsep ini sebagai niat ambisius yang hanya akan melahirkan malapetaka pada anak yang sedang tumbuh. Yang terjadi bukan "bayi jenius", tetapi anak yang bingung dan terlambat perkembangan bahasanya. "Wong saya yang 35 tahun saja belajar bahasa Inggeris nggak bisa-bisa, apalagi bayi disuruh belajar dua bahasa, bisa-bisa stres," kata Nyoman.
Lalu, benarkah ide memperkenalkan dan menumbuhkan anak dalam dua bahasa adalah hal yang kontraproduktif? Jawabnya tidak. Ketika seorang anak diperkenalkan dua bahasa, otaknya yang sedang tumbuh tidak pernah menyadari bahwa sesungguhnya ia sedang mempelajari dua bahasa yang berbeda. Otak menerima keduanya sebagai satu sistem. Satu bukti yang disodorkan oleh para ahli ialah hasil pemeriksaan otak yang menunjukkan dua bahasa tersebut disimpan dalam tempat yang sama.
Lebih Kreatif
Proses ini tidak terjadi pada orang dewasa. Katakanlah Nyoman tadi, yang jatuh cinta pada keindahan bahasa Prancis. Otak akan merekam bahasa yang baru dipelajarinya itu pada tempat yang berbeda dengan bahasa ibu, yang ia gunakan dalam percakapan sehari-hari. Melalui ketekunan yang luar biasa, ia dapat saja fasih berbahasa Prancis, namun prosesnya jauh lebih alot ketimbang anak. Bayi memiliki kapasitas yang luar biasa dalam pendengaran. Mereka sanggup membedakan perbedaan-perbedaan bunyi, yang sangat mirip sekalipun, dalam berbagai macam bahasa.

Ketajaman itu tak lagi dimiliki oleh orang dewasa. Ketajaman dalam mendengarkan perbedaan tinggi suara, warna suara, dan bunyi-bunyi yang sangat tidak familiar dalam bahasa yang berbeda. Faktor berikutnya ialah struktur mulut, terutama langit-langit yang sedang tumbuh dan demikian elastisnya pada anak-anak. Karenanya, bayi lahir dengan kemampuan menirukan segala bentuk bunyi dalam semua bahasa. Namun, begitu satu atau dua bahasa diserap atau dikuasai, langit-langit pun tumbuh mengadaptasi dengan bahasa dominan tersebut. Dan kemampuan untuk menirukan segala bentuk bunyi menjadi terbatas.
Terus, apakah upaya memperkenalkan bayi dengan dua bahasa tidak justru membingungkan bayi? Jawabnya pun, tidak. Hasil observasi para ahli menunjukkan, ada kalanya bahasa anak bilingual terdengar bercampur aduk pada awalnya. Mereka kadang-kadang bingung menentukan bahasa mana yang mesti mereka gunakan, dan kapan menggunakannya. Namun, percayalah, sambil memperdalam kemampuan berbahasa, pada usia tiga tahun mereka sanggup menentukan kapan dan dengan siapa satu bahasa mesti digunakan, begitu sebaliknya dengan bahasa yang satunya. Otak mereka yang sangat elastis dan mirip plastik sanggup mengatasi problem ini.
Jika memang betul bayi lahir dengan kemampuan menirukan bunyi yang luar biasa, keuntungan apa yang bisa ditarik dari pengembangan sistem bilingual? Riset menyodorkan data bahwa siswa yang menguasai dua bahasa atau lebih punya kemampuan memecahkan persoalan yang lebih tinggi. Demikian pula dengan daya analisis dan skor akademik mereka. Para ahli juga melaporkan anak bilingual lebih kreatif karena mereka terbiasa dengan beberapa pilihan atau jalan untuk mengekspresikan perasaan atau pikiran mereka. Dari perspektif sosial, kemampuan ini tentu sangat menguntungkan. Bahasa adalah jembatan, maka, jalur komunikasi menjadi lebih terbuka. Mereka dapat berkomunikasi dengan orang-orang dari kultur dan bahasa yang berbeda. Dengan begitu atmosfir mereka menjadi lebih luas dan kaya.
Banyak Pilihan
Upaya apa yang bisa dikerjakan untuk menumbuhkan kemampuan ini? Anak bilingual tidaklah harus berasal dari perkawinan campur. Menumbuhkan kemampuan berbahasa Inggris pada anak tidak berarti anak harus besar dan tumbuh di negeri yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa ibu. Terdapat banyak pilihan yang bisa dikerjakan untuk melahirkan kemampuan ini. Melalui Play Group atau kelompok bermain dengan anak-anak yang berbahasa lain. Melalui program sekolah yang memperkenalkan bahasa kedua. Dan, hal ini memang sedang jadi trend.

Banyak Play Group sampai Taman Kanak-kanak (TK) yang kini memasukkan bahasa kedua dalam kurikulum mereka. Halini diakui AA Dewi Dharmapatni, Kepala TK Handayani Denpasar Timur. Dari 54 TK di Denpasar Timur, hampir seluruhnya mulai memperkenalkan bahasa Inggris. Menurut Dewi, salah satu media yang sangat efektif ialah buku cerita. Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) wilayah Denpasar Timur telah menerbitkan majalah Kumara Dewata yang memperkenalkan tiga bahasa yakni Bali, Indonesia, dan Inggris. Tema yang diangkat adalah sesuatu yang simpel dan hanya bersifat pengenalan. Dewi mencontohkan, seperti pengenalan bagian tubuh seperti mata, hidung, telinga, kulit, dll. Pun pengenalan lingkungan sekolah atau keluarga sebagai bagian unit kehidupan terkecil anak. "Tentu dalam dosis yang ringan, sebab sifatnya hanya pengenalan," lanjut Dewi.
Metode pengajarannya boleh dikata seperti pyramid. Menurut Dewi, jika hanya mendengar maka akan lupa (puncak pyramid), dengan melihat kita akan tahu (tengah pyramid), dengan melakukan -- misalnya si anak sekaligus menggambar mata sambil mengucapkan "eye" -- daya ingat terhadap objek menjadi lebih dalam.
Dewi mengingatkan, usia anak 2-7 tahun sebagai "masa peka" dalam perkembangan bahasa anak. Maka tak berlebihan jika periode ini juga disebut masa "lapar bahasa", sebab perkembangan bahasa anak sedang demikian pesatnya. Anak sangat rajin dan banyak bertanya dalam fase ini. Karena itu, kesempatan ini sangatlah efektif untuk mengembangakan kosa kata dan menumbuhkan kemampuan berbahasa anak. Selain buku, lagu-lagu asing, acara televisi yang disuguhkan dalam bahasa asing, berbagai permainan yang menggunakan istilah asing, dapat digunakan sebagai jembatan perkenalan.
* dr. Injil Abu Bakar/
dr. Ossyris Abu Bakar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar