Minggu, 08 Januari 2012

Program Anak-Anak

PROGRAM ANAK-ANAK


Pada waktu PPLH kedatangan program anak-anak TK, maka dalam penentuan pemandu menjadi ramai. Ada yang berkomentar “saya tidak bisa menghendel anak TK”, “saya enggak bisa bernyanyi”, “ saya enggak sabaran”, saya …. dan berbagai macam alasan dan komentar yang ada seputar program TK. Mereka lebih bisa menghadapi anak SD, SMP, SMA, Mahasiswa, dan masyarakat. Mengapa bisa begitu sulitnya menghadapi anak-anak ?

Dalam menghendel anak TK, tidak harus kita bisa bernyanyi, karena mereka sendiri mempunyai segudang lagu yang telah dibekali dari guru-guru mereka di sekolah. Tetapi, bagaimana kita bisa masuk ke dunia mereka sebagai teman dan mengerti perasaan mereka. Nah, seperti apa trik-trik atau caranya?

Pertama:
Ketika kita ingin masuk sebagai teman, kita harus tahu dulu bagaimana seorang anak belajar berteman. Menurut Zick Rubin, seorang psikolog, ada 4 tahap yang saling berkaitan seorang anak berteman:
Tahap Egosentris, antara usia 3 dan 7 tahun. Umumnya anak lebih
1. mampu memulai suatu hubungan dari pada menanggapi tingkah laku anak lain. Ia akan berfikiran dan berperasaan sama seperti dirinya. Ia akan sangat kecewa dan cenderung menolak bila ternyata si teman tidak sama seperti dirinya.
2. Tahap pemenuhan kebutuhan. Antara usia 4 dan 9 tahun. Anak mulai tertarik pada proses menjalin hubungan walaupun belum terlepas dari usaha untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Persahabatan menjadi salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan mereka yang tidak diperoleh dalam keluarga.
3. Tahap timbal balik. Tahap ini terjadi pada usia 6 – 12 tahun yang dicirikan kebutuhan saling memberi dan menerima. Keadilan dan kesetaraan mulai menjadi perhatian anak. Mereka menilai kualitas teman mereka dengan membuat perbandingan siap melakukan apa dan untuk siapa. Biasanya persahabatan dalam tahap ini cenderung terbatas antara 2 anak.
4. Tahap keintiman. Antara usia 9 – 12 tahun, anak siap terikat dalam hubungan yang erat. Mereka mulai memperhatikan apa yang tersirat di belakang persahabatan. Dalam persahabatan, anak sanggup berbagi informasi pribadi dan kejadian rahasia yang tidak diketahui orang lain.

Kedua: Mengenali emosi si-anak
Pada usia 4 – 7 tahun, biasanya masa sekolah Play Group, TK, dan masuk SD, mereka memiliki ketrampilan emosi dan sosial anak, yaitu:
1. Anak sudah mulai bergiat di luar rumah, senang bepergian ke berbagai tempat, bertemu teman baru, dan menghabiskan waktu di berbagai lingkungan. Dari berbagai kegiatan ini anak mempelajari banyak hal baru yang menggairahkan.
2. Anak belajar mengembangkan ketrampilan mengatur emosi dengan rekan sebayanya. Dia mulai belajar bagaimana berkomunikasi dengan jelas, bertukar informasi dan menjelaskan pesan-pesan mereka bila temannya tidak paham. Ia juga mulai belajar bagaimana menunggu giliran dalam berbicara dan bermain, serta berbagi.
3. Anak mulai menggemari permainan hayalan . Hal ini ada kaitannya dengan usaha anak untuk mengatasi rasa cemas, tidak berdaya dan takut.

Ketiga: masalah-masalah perkembangan kecerdasan emosi
Kecerdasan emosi bisa menguat atau terkikis bergantung pada apa yang dihadapi anak setiap hari. Ada beberapa kendala yang biasanya muncul pada anak-anak, yaitu:
1. Malu. Anak-anak, apalagi masih balita, kadang-kadang tidak bisa menjelaskan apa yang sedang ia rasakan. Ia cuma menyadari bahwa ada sesuatu yang mengganjal hatinya, dan ganjalan ini muncul setelah ia mengalami situasi tertentu. Cara terbaik untuk mengatasi rasa malu pada anak adalah dengan mengajarkan kepadanya untuk merasa nyaman dengan dirinya sendiri, percaya diri dan bangga diri.

2. Tidak bisa mengekspresikan perasaan. Belajar bagaimana mengekspresikan perasaan sangat penting bagi tumbuh kembang yang normal. Anak yang terbiasa mengatakan “aku sedih”, “aku tersinggung”, aku kecewa”, atau “aku takut” lebih mudah tumbuh menjadi anak dewasa yang sehat perasaan daripada anak-anak yang terbiasa menutupi perasaannya. Kiat-kiat membiasakan anak mengekspresikan perasaannya: tenangkan anak yang sedang gelisah atau bersedih, ajak dia untuk menceritakan perasaannya, apakah itu perasaan negatif ataupun positif, jika anda sudah tahu apa yang dirasakan anak, bimbing dia untuk mengatasi perasaan itu.
3. Frustasi. Frustasi melibatkan beberapa perasaan sekaligus. Karenanya anak-anak kerap sulit mengenalinya, apalagi mengelolanya. Padahal frustasi, yang terjadi karena harapan mereka melebihi kemampuannya, dirasakan oleh anak hampir setiap hari. Misalnya, seringkali anak-anak menunjukan rasa gelisah kalau sedang mewarnai dan kalau tidak sesuai ia akan menyobek kertas itu. Ada beberapa cara untuk membantu mengatasi frustasinya sebagai berikut:
· Pilihkan mainan yang menantang anak tapi tidak terlalu jauh dari kemampuannya
· Ciptakan lingkungan yang bisa diatasi
· Ajari kecakapan sehingga akan meningkatkan harga dirinya, yang sangat membantunya dalam berhubungan dengan teman sebayanya
· Pujilah usahanya dan akui frustasinya
· Dukunglah kalau ia ingin terus mencoba
· Biarkan kalau dia ingin berhenti
· Frustasi yang berlebihan bisa menyebabkan kemarahan. Usahakan anda sudah terlibat dengan persoalannya sebelum si-anak marah tak terkendali.

Nah, itu tiga tahap, kita masuk ke dunia mereka, menjadi teman sekaligus orang yang membantu proses kecerdesan emosi si-anak.

Mengapa di PPLH mengembangkan program anak-anak dan seperti apa hubungannya dengan lingkungan ?

Anak adalah generasi penerus kita. Nasib lingkungan hidup kita di masa depan ada ditangan mereka. Pendidikan yang diberikan sejak dini (anak-anak) akan selalu membekas pada ingatannya dan akan menjadi kebiasaan di kemudian hari. Pendidikan yang diberikan di sini adalah dalam bentuk permainan yang memacu perkembangan otak kanan. Jika hanya otak kiri yang di pacu untuk berkembang, dengan pemberian pelajaran-pelajaran yang meningkatkan IQ, si-anak akan kesulitan mengatasi berbagai masalah kehidupan, karena faktor IQ hanya mempengaruhi sebagian kecil dari kondisi masa depan. Sisanya ditentukan oleh kemampuan seseorang dalam mengembangkan kecerdasan emosi yang dipacu oleh otak kanan.

Dengan tingginya kecerdasan emosi, maka si-anak tidak hanya memikirkan yang berbau eksak (perkembangan otak kiri), tetapi dia akan memikirkan sosial, seni, lingkungan, dan lain-lain. Sehingga kepedulian akan lingkungan hidup akan tinggi, jika selama bermain mereka banyak dikenalkan dengan lingkungan, berinteraksi langsung, menjadikan lingkungan hidup sebagai obyek daya fantasi mereka yang akan membuat perasaan cinta terhadap lingkunganpun akan tinggi.

Permainan apa saja yang dilakukan di PPLH ?

Program yang dikembangkan oleh PPLH seloliman untuk anak-anak adalah dengan bermain. Karena perkembangan anak usia 5 – 6 tahun adalah bermain. Pada usia tersebut si-anak suka bermain sendiri, fantasinya hidup (teman imajinasi), perasaannya kuat, mereka suka dongeng, kegiatannya bermain dan bekerja, masa giat belajar, daya ingat kuat, bermain dengan aneka warna dengan seksama dan teliti.

Berdasarkan perkembangan emosi mereka, maka permainan yang dikembangkan adalah:
1. Kolase ------- mengenal komponen alam
Si-anak dapat mengkreasikan imajinasi mereka di bidang seni untuk menempelkan sesuatu yang ada di sekeliling / alam sekitarnya yang dianggap menarik, tetapi tidak menyakiti ataupun membunuh. Dari karton yang siap ditempelkan, yang awalnya tidak memiliki hiasan, dapat dihias oleh si-anak dengan bunga yang berwarna-warni, daun, biji-bijian, atau apa-pun asalkan bukan hewan yang masih hidup seperti semut, cacing dan lain-lain.
2. Menanam
Pada masa TK, mereka suka bekerja. Dengan menanam mereka akan merasa bermain sambil bekerja. Si-anak akan mengetahui hubungan timbal balik antara tanaman – tanah – hewan dan komponen lain yang hidup dan yang mati. Sambil menanam, si-anak akan menemukan hewan yang ada di dalam tanah, selain itu tahu bahwa tanah itu bukan sesuatu yang kotor / jorok, tetapi sebagai sumber kehidupan.
3. Panen
Setelah menanam, si-anak akan memanen hasil yang mereka tanam. Walaupun itu tanaman yang sudah siap untuk dipanen, dan mereka tidak mengetahui tumbuh kembangnya tanaman tersebut, tetapi si-anak akan merasakan jerih payahnya membuahkan hasil dan tahu tanaman bentuk dari tanaman yang mereka tanam (benih).
4. Memberi makan ternak
Si-anak akan mengetahui prilaku hewan secara dekat. Dengan memberi rumput bagi ternak, menimbulkan kesenangan dan kepedulian terhadap mahluk ciptaan Tuhan yang lain. Dan itu akan menimbulkan interaksi antara si-anak dengan ternak.
5. Menutup mata
Untuk mengetahui daya ingat si-anak, maka dengan mata di tutup, si-anak disuruh memegang tanaman, dan mencium bau dari tanaman tersebut. Dia akan meraba, baik itu batang, daun, buah dan mencium bau yang dikeluarkan oleh tanaman tersebut. Lalu, si-anak dikumpulkan bersama-sama, dijauhkan dari tanaman yang mereka pegang, lalu penutup matanya dibuka. Setelah itu mereka disuruh untuk mencari tanaman mana yang mereka pegang tadi. Dengan begitu mereka akan melatih indra penciumannya (hidung) dan perasa (kulit).
6. Jembatan ayun, papan keseimbangan, ayunan tali
Permainan ini, merupakan tantangan bagi mereka untuk berani dan akan mengulang lagi, setelah mereka merasa permainan itu tidak menakutkan, tetapi mengasikan. Permainan ini dapat membuat si-anak berinteraksi langsung dengan alam, karena permainan ini-pun di desain di alam terbuka.
7. Masuk ke dalam Goa
Si-anak akan menemukan sisi terang di luar goa, dan menemukan sisi gelap di dalam goa. Mereka akan tahu, bahwa gelap itu bukan suatu hal yang menakutkan, sehingga timbul keberanian bagi si-anak.
8. Bermain tanah liat
Anak akan membentuk tanah itu sesuai dengan imajinasi mereka, tanpa takut tangan menjadi kotor. Dan mainan yang mereka bentuk memacu perkembangan otak kanan juga dalam hal seni.
9. Bermain di kali (sungai)
Di dalam kali, mereka akan menemukan hewan-hewan yang banyak mereka tidak ketahui, karena hewan-hewan itu ada yang berenang, diam di atas batu, terbang dan masih banyak lagi sifat yang lainnya. Selain itu, mereka juga akan tahu, bahwa di kali banyak batu dengan berbagai macam warna.
10. Mewarnai dengan warna alami
Bahan pewarna tidak harus dengan menggunakan crayon, tetapi dengan bunga, daun, bumbu ibu di dapur, juga dapat digunakan sebagai warna. Kreatifitas anak akan muncul untuk mencoba warna-warna yang dihasilkan oleh bunga, daun, kunyit dan lain-lain. Mereka tidak harus mengandalkan sesuatu yang sudah siap jadi dan dipakai, tetapi bisa mencari dan mencoba.
11. Dongeng
Penutup permainan disini adalah dongeng. Dongeng ini menceritakan tentang lingkungan yang terdiri dari lakon yang baik dan jahat. Di akhir dongeng, lakon yang baik menjadi pemenangnya. Mereka akan tahu bahwa kebaikan akan mengalahkan kejahatan. Dan dongeng untuk mereka tidak mengandung menghancurkan, tetapi memafaatkan pada lawan, supaya si-anak menjadi orang yang pemaaf kelak.

Pengalaman masa kanak-kanak adalah masa yang indah. Mereka akan banyak menceritakan pengalaman yang mereka dapatkan, dan itu akan membekas dalam hatinya. Biarkan mereka bebas, baik itu bermain, berkreasi, dan merasakan kekecewaan. Karena dari sanalah timbul kepekaan dan ketegaran. Ada 2 pilihan bagi orang tua bagi kehidupan anak-anaknya, mau menjadikan masa kanak-kanak si-anak sebagai emas, atau justru sebagai awal kehancuran!!!

DAFTAR PUSTAKA
Seri Ayahbunda. Mengembangkan Kecerdasan Emosi Anak. 1997. Yayasan Aspirasi Pemuda. Jakarta.
Susiati Tridajat. Tahap Perkembangan Emosi Anak dan Periode Anak. Materi PHM di PPLH Seloliman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar