Minggu, 08 Januari 2012

Gak Cepet Pikun

JANGAN BIARKAN ORTU CEPAT PIKUN

Manusia usia lanjut alias manula tak harus jompo dan cepat pikun, asal ditunjang peran anak atau cucu. Tahun 1999, yang dicanangkan sebagai "Tahun Internasional untuk Manula", mengajak kita agar tidak bikin ortu (orang tua) cepat loyo di usia tuanya dengan sikap kita yang kelewat protektif.  

Perilaku orang muda terhadap para manula agaknya perlu terus digugat. Demi alasan kemanusiaan dan kasih sayang, sering kita melarang orang tua kita yang manula melakukan ini-itu, jangan begini dan jangan begitu. Sikap dan perilaku seperti itu justru "menjerumuskan" para manula ke dalam jurang kejompoan.
Tengok saja Ibu Tien Sidiadinoto, misalnya. Meski usianya sudah menginjak angka 80, ia belum menunjukkan gelagat ingin "pensiun". Tinggal sendiri di rumahnya yang cukup besar di Semarang, Jawa Tengah, ibu yang sudah 24 tahun hidup menjanda ini masih 100% menjadi nakhoda rumah tangganya sendiri. Mulai dari mengurus anak-anak indekos, menu makanan, uang belanja, membayar listrik-PAM-telepon, merawat kebun, sampai membeli, membungkus, dan mengirim kado ulang tahun untuk anak, menantu, dan kemenakan. Semua ia lakukan sendiri.
Tidak jarang nenek berpendidikan MULO (setingkat SLTP di zaman Belanda) ini menyempatkan diri berdandan di salon kecantikan. Di saat lain, ia pergi ke Jakarta sendiri naik pesawat terbang untuk menengok anak-cucu. Bahkan bukan persoalan besar kalau ia harus bertandang ke Yogyakarta, yang jaraknya sekitar 120 km, dengan naik taksi gara-gara langkanya angkutan saat berlangsung demonstrasi besar-besaran di kota itu.

Prof. Dr. Mahar Mardjono. Melatih otak dengan terus berfikir
Tengok pula kiprah Prof. Dr. Mahar Mardjono, pakar neurologi dan mantan rektor Universitas Indonesia, yang awal tahun ini genap berusia 76 tahun. Dua hari sekali, ia mengawali harinya dengan jalan pagi paling tidak selama setengah jam. Seminggu sekali bermain golf. Setiap hari masih datang ke kantornya di bagian neurologi RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Sementara sore harinya praktik di RS St. Carolus. Tidak jarang ke mana-mana ia menyetir mobil sendiri.
Mahar Mardjono merasa biasa saja menjadi manula meskipun ia mengaku merasa cepat lelah. "Kadang saya harus membaca dua kali (untuk memahami sesuatu)," katanya. Toh ia masih sanggup menghadiri pelbagai seminar di dalam maupun di luar negeri. "Ini juga cara untuk bersosialisasi," tuturnya.
Para manula dapat aktif dengan seribu satu macam cara sesuai dengan tingkat pendidikan dan latar belakang sosialnya.
Pengertian usia ada dua yaitu usia kronologis dan usia biologis. Usia kronologis adalah usia menurut kalender. Dalam pengertian ini ada kelompok usia tua muda (60 - 75 tahun), tua (76 - 80 tahun), dan sangat tua (81 tahun ke atas). Sedangkan usia biologis ditentukan oleh kondisi otak. Berkaitan dengan usia biologis ini, ada orang yang berusia 50 tahun sudah mulai pikun; sebaliknya ada yang sudah amat tua tapi masih mempunyai daya pikir tajam.

Bisa sampai 90 tahun
Use it or lose it. Itulah kata kuncinya. Kalau otak jarang "dipakai", lama-kelamaan akan kethul, makin menurun fungsinya. Itu sebabnya Prof. Dr. Sidiarto Kusumoputro, Sp.S. dalam seminar "Menjaga Potensi Fungsi Otak dalam Proses Penuaan" di RS Husada Jakarta, Februari lalu, berharap agar kita termotivasi untuk tetap menggunakan otak sampai usia lanjut.
Belajar dan terus melakukan aktivitas, menurut dokter ahli saraf dari RSUPNCM-FKUI ini, merupakan kunci stimulasi terhadap otak. Kalau rangsangan itu diberikan terus-menerus dan terarah, dapat meningkatkan intelegensi manusia sampai usia 80 - 90 tahun.Bukan berarti seorang manula mesti mengingkari kodratnya sebagai orang lanjut usia. Kenyataannya, otak yang menjadi tua memang mengalami berbagai perubahan struktur maupun kimiawi yang khas. Kita pasti akan mengalami penurunan berbagai fungsi. Mudah lupa, menurut Sidiarto, adalah fenomena yang paling menonjol. Belum lagi mudah bingung walaupun masih dalam batas normal.

Menari, latihan fisik untuk manula yang juga menghibur.
Fungsi otak dapat dirinci dan dipilah-pilah. Otak belahan kiri mempunyai fungsi yang berbeda dengan otak belahan kanan. Kalau belahan kiri tugasnya lebih pada pusat kemampuan baca-hitung-tulis yang logis analitis, belahan kanan pada pusat pemantauan dan perlindungan diri terhadap lingkungan, sosialisasi, spiritual, musik, kesenian, peribahasa, dan emosi. Jadi, setiap belahan otak mempunyai spesialisasi untuk melaksanakan tugas spesifik. Kedua belahan saling berkonsultasi dan bekerja sama laksana sebuah konser.
Aktivitas dua belahan otak itu dikoordinasi secara fisiologis melalui korpus kalosum atau "jembatan emas". Melalui serabut saraf "jembatan emas" inilah stimulus dari kedua belahan berlalu-lalang sehingga memungkinkan orang menggunakan kedua belahan secara bergantian serta komplementer, menurut situasi dan kondisi tertentu. Mekanisme ini memungkinkan penggunaan otak secara keseluruhan.
Dikatakan oleh Sidiarto, penurunan fungsi belahan kanan lebih cepat daripada yang kiri. Tidak heran bila pada para lansia terjadi penurunan berupa kemunduran daya ingat visual (misalnya, mudah lupa wajah orang), sulit berkonsentrasi, cepat beralih perhatian. Juga terjadi kelambanan pada tugas motorik sederhana seperti berlari, mengetuk jari, kelambanan dalam persepsi sensoris serta dalam reaksi tugas kompleks. Tentu sifatnya sangat individual, tidak sama tingkatnya satu orang dengan orang lain.
Namun, kebanyakan proses lanjut usia ini masih dalam batas-batas normal berkat proses plastisitas. Proses ini adalah kemampuan sebuah struktur dan fungsi otak yang terkait untuk tetap berkembang karena stimulasi. Sebab itu, agar tidak cepat mundur proses plastisitas ini harus terus dipertahankan.

Olahraga apapun bisa dilakukan asalkan sesuai kemampuan
Stimulasi untuk meningkatkan kemampuan belahan kanan perlu diberikan porsi yang memadai, berupa latihan atau permainan yang prosedurnya membutuhkan konsentrasi atau atensi, orientasi (tempat, waktu, dan situasi), memori visual, dll.
Di samping itu, pengenalan serta pemahaman sastra sangat relevan. Contoh latihan dalam bentuk permainan yang bermanfaat: teka-teki silang, computer games, puzzle, figjig. Jadi, para lansia perlu latihan otak yang terprogram, baik secara individual maupun kelompok.

Rasa sayang yang keliru
Selain itu, masih perlu diprogramkan aktivitas yang mengandung unsur komunikasi sosial, musikal, artistik, dan spiritual. Maka kita pun diingatkan pada adat dan budaya kita yang cenderung bersikap protektif terhadap orang tua yang memasuki usia lanjut.
"Larangan dari anak-anak untuk berbuat ini-itu membuat seorang manula makin susah," ungkap Mahar Mardjono. Kondisi semakin sulit, bila ia "mondok" di rumah anaknya. Maka, bila kondisi fisik dan mental masih memungkinkan, sebaiknya manula tinggal di rumah sendiri, atau di penampungan orang tua yang masih aktif. Bukan di panti jompo.
Itulah pula sikap Ir. M. Nugroho Sidiadinoto terhadap ibunya Ny. Tien Sidiadinoto pada contoh di atas. "Kami memberi kebebasan kepada ibu untuk mengambil keputusan, karena orang harus senantiasa ditantang untuk memutuskan bagi dirinya sendiri," tuturnya.
Bagaimana ibunya bisa tetap tampil bugar secara fisik dan mental, karena, "Secara fisik, ia terus bergerak. Secara mental, ia berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Seseorang bisa saja tidak tergolong pandai secara intelektual, namun bila dibiarkan berkembang, kekuatan-kekuatan kepribadiannya yang lain muncul dan turut memelihara kewaspadaan mentalnya," kata Nugroho. Ia juga memahami, membaca amat baik untuk memelihara kewaspadaan mental. Namun untuk ibunya yang daya konsentrasinya sudah memudar, pendekatan interaksi sosial tampaknya lebih mudah.
Ny. Tien, menurut Mahar Mardjono, merupakan contoh orang tua yang terhindar dari yang dia sebut "rasa eman yang keliru". Demi alasan kemanusiaan dan rasa sayangnya, misalnya karena takut kehujanan, tertabrak motor, dll., kita cenderung melarang orang tua pergi sendiri ke suatu tempat. Padahal si orang tua masih bisa melakukannya sendiri.
Oleh karena itu, kalau orang tua masih memiliki keinginan untuk belajar lagi, seyogyanya beri mereka kesempatan. Menurut Mahar, pengetahuan atau keterampilan apa pun dapat dipelajari sendiri, terutama yang tidak perlu diuji, seperti bermain piano, membaca, berbahasa asing, atau otak-atik mobil. Selain sebagai hobi, keahlian itu bisa untuk memperoleh penghasilan tambahan.
Andaikan tak punya hobi, Mahar menganjurkan agar memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada manula untuk berkomunikasi, entah dengan orang luar ataupun cucu. Ia menilai positif kebiasaan mengajak orang tua tinggal di rumah bersama cucu.
Memelihara sambungan antarsel otak diibaratkannya seperti memelihara jalan tol. Pemikiran dilakukan oleh banyak sel otak yang saling berhubungan. Jalur hubungan itu harus dirawat dengan cara dipakai untuk berpikir. Bila tidak, jalur sambungan itu lambat laun rusak.
Mahar menyebut contoh, seorang kenalannya yang 15 tahun menderita kelumpuhan tetap berpraktik sebagai dokter. Stephen Hawking, fisikawan top dari Inggris, tetap menghasilkan gagasan cemerlang, meski menderita kelumpuhan nyaris total akibat kelainan cerebral palsy. Dalam kondisi tubuh yang tak sempurna, otak yang aktif tetap memungkinkan manusia untuk terus produktif.

Tua karena kurang gerak
Dalam jurnal Nature Neuroscience, seperti dikutip Harian The Straits Times (24/2), dimuat temuan ilmuwan bahwa pada tikus yang banyak berolahraga, sel-sel otak baru yang tumbuh jumlahnya dua kali lipat ketimbang pada tikus yang hanya santai di kandang. Pengamatnya, neurolog Fred Gage dari Salk Institute di La Jolla, Kalifornia, AS, juga telah melaporkan temuan yang bertentangan dengan yang dipercaya selama ini, sel-sel otak manusia ternyata terus membelah dan tumbuh. Di sinilah "senam otak", dalam arti melakukan latihan tertentu yang merangsang otak, menjadi semakin relevan.
Menurut penelitian di Inggris terhadap 10.255 orang, pada lansia di atas usia 75 tahun terdapat gangguan-gangguan fisik seperti anthrosis atau gangguan sendi (55%), keseimbangan berdiri (50%), fungsi kognitif pada susunan saraf pusat (45%), penglihatan (35%), pendengaran (35%), kelainan jantung (20%), sesak napas (20%), serta gangguan niksi (ngompol) (10%).
Gangguan-gangguan itu, menurut dr. Ruswaldi Munir, Sp.KO, dari RSUPNCM-FKUI, antara lain karena kurangnya cadangan fungsi-fungsi tubuh serta timbulnya satu atau lebih kelainan pada bidang rohani, jasmani, atau sosial.
Salah satu upaya untuk menghambat proses penuaan, menurut pakar kesehatan olahraga ini, dengan melakukan gerakan atau latihan fisik secara teratur. "Seseorang bukannya tidak mau bergerak karena tua, tapi menjadi tua karena tidak mau bergerak," tegasnya. Munir memberikan dua macam latihan yang dapat meningkatkan potensi kerja otak yakni meningkatkan kebugaran secara umum dan melakukan senam otak (brain gym).
Namun, sebelum melakukan latihan kebugaran disarankan agar lansia terlebih dulu memeriksakan kesehatan secara menyeluruh. Bila ditemukan kelainan, latihan hendaknya dilakukan di bawah pengawasan dokter.
Latihan kebugaran meliputi latihan daya tahan yang bersifat aerobik. Untuk para lansia yang paling tepat adalah berjalan kaki.
Umumnya, kelenturanlah yang pertama mengalami kemunduran dengan bertambahnya usia. Mengerutnya kapsula persendian mengakibatkan daerah gerak persendian berkurang. Sebab itu alangkah baiknya bila para lansia juga berlatih menggerakkan sendi pada daerah geraknya yang maksimal, sekali sehari selama 5 - 10 menit. Intensitas dan waktu tidak perlu berlebihan karena dikhawatirkan menyebabkan hipermobilitas.
Selain kelenturan, koordinasi harus selalu dilatih, misalnya dengan memainkan alat musik, menyetir mobil, dll. Kecepatan tentu tidak perlu dipaksakan.
Seorang pemain basket yang andal dengan cepat bisa memasukkan bola, karena mempunyai intuisi dan perkiraan jarak yang pas. Pemain sepak bola ulung, secara cepat dan tepat mengetahui gerak kaki lawan, arah lari, dan tendangan. Semua itu dimungkinkan karena kerja sama antara akal oleh belahan otak kiri dan budi (rasa) oleh belahan otak kanan.
Senam otak dalam bentuk latihan yang disebut Edu-K (Educational Konestetics) ini dipelopori Paul E. Dennison, peneliti dari Universitas Kalifornia Selatan, AS. Meski semula ditujukan untuk melatih anak-anak dengan kesulitan belajar, ternyata latihan ini bermanfaat untuk segala umur.
Senam ini berupa gerakan silang atau gerakan saling bergantian. Gerakan silang, menurut Dennison, akan mengaktifkan dua belahan otak secara bersamaan serta memudahkan penyeberangan garis tengah.
Latihan ini akan menunjang sistem belajar seseorang karena mengaktifkan kedua belahan otak, meningkatkan penglihatan dan pendengaran, menunjang pekerjaan menulis, membaca, mendengar, dan pemahaman tentang bacaan, serta meningkatkan koordinasi belahan kiri dan kanan.  
(Lily Wibisono/Shinta Teviningrum/Nanny Selamihardja)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar